Siswa SMAN 1 Abang Dibekali Literasi Kesehatan Mental, Kenali Kecemasan hingga Adiksi Remaja

Siswa SMAN 1 Abang Dibekali Literasi Kesehatan Mental, Kenali Kecemasan hingga Adiksi Remaja


Sebanyak 206 siswa kelas XII SMAN 1 Abang, Karangasem, mengikuti kegiatan edukasi dan skrining kesehatan mental remaja, Mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan generasi muda, para siswa diajak mengenali kesehatan mental, memahami risiko adiksi, hingga mengetahui kapan rasa cemas yang normal mulai membutuhkan perhatian. Yang bertempat SMAN 1 Abang Kerangasem Bali Jumat (18/9/2026).


Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Suryani Institute, dan University of Sydney, sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi sekaligus mendorong deteksi dini masalah kesehatan mental pada remaja. Kegiatan diikuti siswa kelas XII.1 hingga XII.6 dan diterima langsung oleh Kepala Sekolah SMAN 1 Abang, I Putu Suweta, S.Pd., M.Pd. Turut hadir Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Sp.KJ(K), MARS, selaku Koordinator Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, bersama tim.


Kepala Sekolah SMAN 1 Abang, I Putu Suweta, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berbicara tentang pencapaian akademik, tetapi juga bagaimana sekolah membantu peserta didik tumbuh menjadi individu yang sehat secara fisik maupun mental.

“Anak-anak kita menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Selain tuntutan akademik dan persiapan masa depan, mereka juga hidup sangat dekat dengan media sosial dan berbagai tekanan di lingkungan pergaulan. Karena itu, kami menyambut baik kegiatan ini agar siswa semakin mengenali dirinya, berani berbicara ketika menghadapi masalah, dan mengetahui ke mana harus mencari pertolongan,” ujar I Putu Suweta.


Penyuluhan pertama disampaikan dr. Felisiana melalui materi “Mental Health pada Remaja”. Siswa diajak memahami bahwa kesehatan tidak hanya berarti bebas dari penyakit fisik, tetapi juga mencakup kesehatan jiwa dan kemampuan berinteraksi secara sosial. Masa remaja sendiri merupakan periode penting karena terjadi perubahan biologis, perkembangan identitas dan emosi, sekaligus meningkatnya pengaruh teman sebaya serta lingkungan. 


Tekanan akademik, relasi keluarga dan teman, penggunaan media sosial dan gawai, serta pengalaman buruk merupakan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi kesehatan mental remaja. Materi juga memperkenalkan berbagai masalah yang perlu dikenali, termasuk kecemasan, bullying, self-harm, penyalahgunaan zat, adiksi gawai, depresi, hingga ide bunuh diri. Kecemasan, perubahan tidur, kehilangan minat, atau kesulitan berkonsentrasi mulai menetap dan mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan takut untuk bercerita dan mencari pertolongan,” jelas dr. Felisiana.


Ia juga mengingatkan para siswa untuk tidak melakukan diagnosis sendiri. Ketika seorang teman terlihat sangat sedih, khawatir, atau tertekan, langkah awal yang dapat dilakukan adalah mendekati dan mendengarkan tanpa menghakimi. Pesan tersebut sejalan dengan materi penyuluhan yang menekankan bahwa masalah dan gangguan mental dapat ditangani. 


Para siswa diajak melihat secara lebih kritis kebiasaan sehari-hari dan memahami bahwa persoalan adiksi bukan sekadar mengenai seberapa sering suatu aktivitas dilakukan, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan seseorang mengendalikan perilaku serta dampaknya terhadap kehidupan. Penggunaan gawai dan media sosial juga bersinggungan dengan materi kesehatan mental yang diberikan kepada siswa. Dalam materi tersebut, penggunaan berlebihan disebut dapat berdampak negatif terhadap pola pikir dan kesehatan mental anak dan remaja. 


“Kita perlu mulai bertanya: apakah saya masih mengendalikan kebiasaan ini, atau justru kebiasaan ini yang mulai mengendalikan saya? Ketika suatu aktivitas membuat kita sulit berhenti, mengganggu tidur, belajar, hubungan dengan keluarga atau teman, bahkan membuat tanggung jawab sehari-hari mulai terabaikan, itu menjadi tanda bahwa kita perlu lebih waspada,” ujar dr. Jourdy.


Menurutnya, edukasi mengenai adiksi penting diberikan tanpa memberikan stigma kepada remaja. Pendekatan yang menghakimi justru dapat membuat seseorang semakin enggan menceritakan masalah yang dialaminya.


Penyuluhan ketiga dibawakan Cokorda Dewinta dengan tema “Kecemasan pada Remaja”. Topik tersebut terasa dekat dengan siswa kelas XII yang sedang berada pada fase menghadapi ujian, kelulusan, pemilihan pendidikan lanjutan, serta berbagai ketidakpastian mengenai masa depan. Cokorda Dewinta menjelaskan bahwa rasa cemas pada dasarnya merupakan respons tubuh dan pikiran ketika seseorang merasakan ancaman atau sesuatu yang mengkhawatirkan. Cemas sebelum ujian, misalnya, dapat mendorong seseorang belajar dan mempersiapkan diri. Dengan demikian, rasa cemas tidak sama dengan gangguan kecemasan. 


“Cemas itu bukan tanda kamu lemah. Cemas adalah alarm tubuh. Alarm itu sebenarnya membantu kita mempersiapkan diri menghadapi sesuatu. Tetapi kalau alarmnya terlalu kuat, terlalu sering, terlalu lama, sulit dikendalikan, dan mulai mengganggu sekolah, tidur, keluarga, pertemanan atau konsentrasi, alarm itu perlu kita periksa,” ungkap Cokorda Dewinta.


Pesan tersebut menjadi benang merah materi kecemasan yang diberikan kepada siswa. Dalam materi disebutkan, kecemasan perlu mendapat perhatian ketika menjadi terlalu kuat, terlalu sering, berlangsung terlalu lama, sulit dikendalikan, dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Para siswa juga tidak hanya diberikan teori. Mereka diperkenalkan dengan langkah sederhana untuk membantu mengelola kecemasan, mulai dari latihan pernapasan, aktivitas fisik, menuliskan apa yang sebenarnya dikhawatirkan, hingga membangun kebiasaan yang lebih sehat dalam menggunakan media sosial. 


Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Sp.KJ(K), MARS menekankan bahwa peningkatan literasi kesehatan mental di lingkungan sekolah memiliki posisi penting karena sebagian besar keseharian remaja berlangsung bersama teman sebaya dan guru. Sekolah, menurutnya, bukan hanya tempat untuk memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga dapat menjadi ruang aman bagi remaja untuk tumbuh dan memperoleh dukungan ketika menghadapi masalah.


“Remaja tidak hidup sendiri. Ada keluarga, teman, guru dan lingkungan sekolah di sekeliling mereka. Ketika seluruh lingkungan ini memiliki literasi kesehatan mental yang baik, perubahan pada seorang remaja dapat dikenali lebih awal dan pertolongan dapat diberikan sebelum masalah menjadi semakin berat,” ujar Prof. Cokorda.


Ia juga mengajak para siswa untuk membangun budaya pertemanan yang tidak menghakimi. 

“Kadang-kadang orang pertama yang mendengar masalah seorang remaja bukan orang tua atau dokter, tetapi temannya sendiri. Karena itu, jadilah teman yang mau mendengar. Kita tidak harus mempunyai semua jawaban. Yang penting adalah tidak menghakimi dan tahu kapan harus mengajak teman mencari bantuan kepada orang dewasa atau tenaga profesional,” tambahnya.


Pesan tersebut sejalan dengan materi yang menempatkan sekolah sebagai lingkungan yang perlu aman dari bullying, diskriminasi dan kekerasan, sekaligus menyediakan edukasi kesehatan mental serta guru yang peka terhadap perubahan pada siswa. Antusiasme terlihat saat sesi diskusi dan tanya jawab dibuka. Sejumlah siswa aktif menyampaikan pertanyaan kepada para narasumber mengenai persoalan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.


Siswa yang aktif berdiskusi mendapatkan hadiah buku sebagai bentuk apresiasi atas keberanian untuk bertanya dan menyampaikan pandangan.Salah seorang siswa mengaku pembahasan mengenai kecemasan terasa relevan karena sebagai siswa kelas XII, mereka mulai menghadapi berbagai tuntutan sekaligus keputusan mengenai masa depan.


“Sebagai siswa kelas XII pasti ada rasa cemas memikirkan ujian, kelulusan, dan nanti mau melanjutkan ke mana. Dari kegiatan ini saya jadi tahu kalau cemas itu sebenarnya bisa normal. Tetapi kami juga jadi tahu kapan rasa cemas sudah mulai mengganggu dan tidak perlu malu untuk meminta bantuan,” ungkap salah seorang peserta.


Siswa lainnya menilai pembahasan mengenai adiksi membuatnya lebih memahami bahwa penggunaan gawai tidak hanya dapat dinilai berdasarkan lamanya waktu menggunakan perangkat.

“Saya jadi lebih sadar bahwa yang penting bukan cuma berapa jam kita main HP, tetapi apakah kita masih bisa mengontrolnya dan apakah itu sudah mengganggu belajar atau kegiatan lain. Materinya dekat sekali dengan kehidupan kami sehari-hari,” tuturnya.


Setelah memperoleh edukasi, para siswa kemudian diajak melakukan skrining kesehatan mental secara digital melalui Harmoni Jiwa. Harmoni Jiwa digunakan sebagai sarana penilaian awal yang mudah dan rahasia untuk meningkatkan kesadaran diri sekaligus membantu identifikasi dini siswa yang mungkin membutuhkan pendampingan lebih lanjut. Platform tersebut merupakan hasil proyek KONEKSI yang melibatkan Universitas Udayana dan University of Sydney. 


Prof. Cokorda mengingatkan bahwa hasil skrining tidak boleh dipahami sebagai diagnosis.

“Skrining bukan untuk memberi label kepada siswa. Skrining adalah pintu awal agar seseorang lebih mengenali kondisi dirinya. Jika ditemukan sesuatu yang membutuhkan perhatian lebih lanjut, barulah kita dapat mengarahkan kepada pendampingan dan pelayanan profesional yang tepat,” jelasnya.


Usai kegiatan di SMAN 1 Abang, tim melanjutkan agenda dengan melakukan kunjungan rumah kepada warga di sekitar wilayah Abang bekerja sama dengan Puskesmas setempat. Kegiatan tersebut memperluas pendekatan dari edukasi kesehatan mental berbasis sekolah menuju pelayanan berbasis masyarakat.Pendekatan ini menempatkan sekolah, keluarga, layanan kesehatan primer, perguruan tinggi dan masyarakat dalam satu mata rantai yang saling terhubung: memberikan edukasi, mengenali masalah lebih dini, melakukan skrining, dan menghubungkan individu yang membutuhkan dengan pertolongan yang tepat.


Kolaborasi Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Suryani Institute dan University of Sydney tersebut diharapkan tidak berhenti pada satu kali penyuluhan, tetapi turut menumbuhkan lingkungan sekolah yang lebih terbuka terhadap isu kesehatan mental. Sebab bagi remaja, langkah pertama untuk menjaga kesehatan mental tidak selalu harus dimulai dari ruang konsultasi. Terkadang, langkah itu dimulai dari hal yang jauh lebih sederhana: mampu mengenali apa yang sedang dirasakan, memiliki seseorang yang bersedia mendengarkan, dan mengetahui bahwa meminta pertolongan bukanlah sebuah kelemahan.